“Saya mendengar bahwa ada masalah di Eropa, terutama soal media tanam. Di Eropa, bahan baku cocopeat sedang dibatasi, dan mereka mencari alternatif lain. Langsung kami sampaikan bahwa di Indonesia kami pakai sekam bakar. Saya kirimkan sampel, kemudian dites, dan hasilnya bagus,” ucapnya.
Dari situ, perusahaan media tanam terbesar di Eropa memesan satu kontainer sekam bakar sebanyak 1.500 bag dengan berat total 10 ton.
“Minaqu, perusahaan yang berdomisili di Kota Bogor ini, harapannya bisa terus bersinergi dengan Pemkot Bogor. Tentunya Kota Bogor ini seperti kuning telur, menjadi hub bagi komoditas-komoditas ekspor karena letaknya yang strategis. Dan ini bisa menjadi pendorong UMKM untuk maju dan naik kelas,” ujarnya.
Dalam kurun waktu kurang lebih enam bulan ke depan, pihaknya juga akan kembali mengekspor sekam bakar dalam jumlah yang lebih besar, bekerja sama dengan Bulog yang memiliki bahan baku gabah.
Dengan kegiatan ini, selain dapat membanggakan daerah dan Indonesia, juga bisa berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.
Sebagai informasi, pelepasan ekspor ini diawali dengan pemberian sertifikat oleh Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Sahat Manaor Panggabean, serta penyegelan yang memastikan bahwa produk tersebut telah melalui proses karantina. []