“Total bantuan resmi dari Pemkot kurang lebih satu miliar rupiah, ditambah kontribusi dari ASN dan Korpri sekitar seratus juta sampai seratus dua puluh juta,” ungkapnya.
Dedie Rachim menuturkan bahwa untuk sementara bantuan non-tunai seperti pangan atau pakaian belum dapat dikirimkan, karena kendala akses distribusi di wilayah bencana, pergerakan logistik yang masih terbatas, dan harus menunggu arahan lebih lanjut dari BNPB.
Ia menyoroti, prioritas bantuan yang diperlukan untuk wilayah terdampak bencana adalah akses air bersih dan listrik.
“Untuk bantuan non-tunai agak sulit, karena transportasinya belum bisa menjangkau titik-titik krusial. Jadi untuk sementara yang dikumpulkan adalah bantuan uang tunai atau transfer, karena prioritasnya bagaimana listrik bisa nyala, air minum bisa kembali terakses, kemudian juga kehidupan harus dipulihkan ya,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi di wilayah terdampak, terutama Aceh, menunjukkan skala bencana yang sangat besar, sehingga proses pemulihan akan memerlukan waktu panjang dan dukungan lintas sektor.
Ia bahkan menyebut kemungkinan perlunya badan khusus rehabilitasi seperti BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) yang pernah dibentuk pemerintah setelah bencana besar di masa lalu.
Lebih lanjut, Dedie Rachim menyinggung pentingnya kesiapsiagaan bencana di Kota Bogor. Ia menekankan bahwa mitigasi harus menjadi perhatian bersama mengingat bencana dapat datang tanpa dapat diprediksi.
“Kita paling tidak harus menggugah kesadaran masyarakat untuk mulai mengantisipasi misalnya terjadi bencana, ke mana jalur evakuasi, nomor penting mana yang harus dihubungi, kemudian apa yang mereka harus lakukan, termasuk ada ransel darurat yang harus disiapkan di masing-masing rumah tangga. Karena bencana pasti akan terjadi, namun kita tidak tahu kapan waktunya akan terjadi,” pungkasnya. []