Ia berharap lulusan perguruan tinggi di Bogor dapat menjadi pelopor inovasi yang membuka peluang kerja baru bagi masyarakat.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Ketenagakerjaan RI, Yassierli, memaparkan tantangan besar di mana angkatan kerja Indonesia mencapai 154 juta jiwa dengan angka pengangguran sekitar 7,46 juta.
Namun, ia optimis karena lulusan sarjana memiliki keunggulan kompetitif sebagai kelompok elit 15 persen dari total angkatan kerja.
"Perusahaan saat ini lebih mencari keterampilan (skills) daripada sekadar selembar ijazah. Kita harus mengubah pola pikir dari fixed mindset menjadi growth mindset, yaitu kesiapan untuk terus belajar hal baru setiap saat," kata Menaker Yassierli.
Yassierli juga menyoroti pentingnya sektor-sektor baru seperti industri semikonduktor dan optimalisasi teknologi dalam bidang pertanian sebagai ladang pekerjaan masa depan.
Sementara itu, Rektor UIKA Bogor, Prof. Dr. H. E. Mujahidin, menyoroti realitas pengangguran di Kota Bogor yang mencapai 43.043 orang atau sekitar 7,95 persen. Berdasarkan data yang ada, angka pengangguran tersebut didominasi oleh lulusan SMK.
Ia menekankan pentingnya validasi data pengangguran agar program intervensi yang dirancang pemerintah dan akademisi tepat sasaran.
"Kolaborasi adalah kunci. Kita butuh database yang valid untuk memahami karakteristik pengangguran di Kota Bogor sehingga kita bisa merancang program pelatihan dan penempatan yang efektif," tegas Prof. Mujahidin.