214 Jiwa Jadi Korban Keracunan MBG, Badan Gizi Nasional Janji Tingkatkan Uji Organoleptik

214 Jiwa Jadi Korban Keracunan MBG, Badan Gizi Nasional Janji Tingkatkan Uji Organoleptik

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana bersama Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim saat membesuk sejumlah korban di RSUD Kota Bogor, Sabtu (10/5) Malam. -Bogor Aktual-Istimewa

"Namun sejauh ini jumlahnya semakin menurun," ucap Dedie. 

BGN Tingkatkan Uji Organoleptik

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa dampak yang dialami siswa dalam kejadian ini tergolong lambat, berbeda dengan daerah lainnya.

Melihat kejadian ini secara umum, BGN perlu meningkatkan standar-standar operasional prosedur, dimulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak yang tidak terlalu lama, serta proses distribusi yang tidak terlalu jauh dari lokasi SPPG.

BACA JUGA:Komisi IV Bongkar Fakta di Dapur MBG Bosowa Bina Insani, Temukan Banyak Kelalaian

Namun, sambung Dadan, SPPG Bosowa Bina Insani merupakan salah satu percontohan yang dikerjakan oleh chef profesional yang sudah terbiasa melayani makanan untuk anak-anak di sekolah tersebut.

"Jadi fasilitas yang ada menurut kami sudah sesuai standar BGN. Bangunannya bagus, higienis, dan bersih," sebutnya. 

Ke depan, dalam standar operasional ini, pihaknya juga akan meningkatkan uji organoleptik, yakni metode penilaian kualitas suatu produk, bahan, atau komoditas yang menggunakan pancaindra manusia (mata, hidung, mulut, dan tangan).

Tak hanya itu, BGN juga akan melakukan penyegaran setiap tiga bulan sekali di setiap SPPG, serta menggelar pelatihan rutin terkait peningkatan kualitas makanan, pemilihan bahan baku, dan lain sebagainya.

"Kami juga bekerja sama dengan BPOM, Dinkes, dan para profesional yang terlibat dalam tata boga food and beverage. Jadi itu langkah-langkah yang akan kami lakukan kepada para SPPG, dan kami meminta mereka untuk meningkatkan lagi kewaspadaan," tukas Dadan. 

Terpisah, Kepala Dinkes Kota Bogor, Sri Nowo Retno menjelaskan, sampai saat ini ada 34 siswa yang masih dirawat di rumah sakit dari sebelumnya berjumlah 40 orang. Sementara, 45 siswa lainnya menjalani rawat jalan dan 129 siawa mengalami keluhan ringan.

"Perkembangan hingga tanggal 10 Mei 2025 terjadi penambahan empat kasus, sehingga total korban saat ini mencapai 214 orang," terang Retno sapaanya. 

BACA JUGA:Sahira Hotel Jadi Wajah Wisata Rendah Emisi Karbon, Wujudkan Ekosistem Ramah Lingkungan

Berdasarkan sebaran kasus, 214 korban keracunan tersebut berasal dari sembilan sekolah, yakni mulai dari ttaman kanak-kanak (TK) hingga tingkat sekolah menengah atas (SMA).

Di antaranya, TK Bina Insani (25 orang), SD Bina Insani (10 orang), SMP Bina Insani (94 orang), SMA Bina Insani (1 orang), SDN Kukupu 3 (8 orang), SDN Kedung Waringin (7 orang), SDN Kedung Jaya 1 (16 orang), SDN Kedung Jaya 2 (45 orang), dan SMP Bina Graha (8 orang). Diketahui, dapur SPPG Bosowa Bina Insani tersebut mengelola 13 sekolah dengan total 2.977 porsi makanan. []

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News