Paviliun Indonesia di World Expo Osaka 2025 Masih Dikenang Berkat Panggung Budaya

Paviliun Indonesia di World Expo Osaka 2025 Masih Dikenang Berkat Panggung Budaya

Panggung budaya Paviliun Indonesia di World Expo Osaka 2025 menghadirkan tarian Nusantara yang memikat pengunjung internasional.--Dok. Molly Prabawati

BogorAktual.id - Dua bulan setelah World Expo Osaka 2025 ditutup, Paviliun Indonesia masih menjadi bahan perbincangan para pengunjung. Mulai dari yel-yel ajakan masuk ke dalam pavilliun yang jadi viral di Jepang, isi pavilliun yang menarik dan interaktif, dan terutama karena program panggung hariannya yang menampilkan berbagai seni dan budaya Indonesia.

 

Selama enam bulan penyelenggaraan Expo, Paviliun Indonesia mencatat pencapaian luar biasa: lebih dari 2 juta pengunjung, dengan rekor harian mencapai puluhan ribu. Banyak pengunjung menilai bahwa salah satu daya tarik terbesar Paviliun adalah panggung budaya hariannya, yang menyajikan tarian-tarian Nusantara sebagai pengalaman langsung yang otentik — bukan sekadar tontonan, tapi jendela untuk merasakan jiwa Indonesia.

 

Salah satu yang banyak disebut adalah penampilan Komunitas Perempuan Menari, yang dalam empat sesi pertunjukannya selama dua hari membawakan berbagai tarian dari barat sampai timur Indonesia: Sumatra Barat, Betawi, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, sampai Papua. Gerakan para penari dari Komunitas Perempuan Menari yang lincah, dinamis dan terkadang berkesan magis seperti menghipnotis penonton, dan menarik lebih banyak orang yang lewat di depan paviliun Indonesia untuk berhenti dan ikut menikmati penampilan mereka.

 

Antusiasme penonton sangat tinggi, sampai-sampai mereka berebut untuk ikut bernyanyi dan menari bersama para penari di panggung di setiap akhir sesi, membawakan lagu Rasa Sayange dari Maluku yang memang cukup terkenal di Jepang.

 

Penampilan Komunitas Perempuan Menari di World Expo Osaka 2025 ini meninggalkan kesan mendalam bagi para pengunjung. Di antara mereka, Haruka Tanaka dari Jepang, terlihat merekam dengan penuh perhatian.

 

"Saya belum pernah melihat tarian seatraktif ini,” katanya setelah pertunjukan. “Gerakannya dinamis penuh energi, dan kostumnya sangat indah. Rasanya seperti melihat cerita yang tidak membutuhkan bahasa, " ujar Haruka.

 

Komunitas Perempuan Menari adalah kelompok yang beranggotakan lebih dari 100 perempuan Indonesia lintas usia, dari usia 7 hingga 65 tahun. Mereka bukan penari professional, melainkan berasal dari beragam profesi, seperti pelajar, pekerja korporasi, ASN, ibu rumah tangga, dosen hingga dokter, yang disatukan oleh kecintaan bersama pada budaya Indonesia dan keinginan mulia untuk terus melestarikannya.

 

Atas niat mulia itulah, Komunitas Perempuan Menari tidak hanya melakukan pertunjukan di Indonesia, tapi juga mancanegara seperti Belanda, Thailand, dan Jepang.

 

Lars de Vries, pengunjung asal Belanda mengungkapkan kesannya terhadap pertunjukan tersebut, “Saya tidak menyangka mereka bukan penari professional. Menonton tarian-tarian ini membuka wawasan dan membuat saya ingin mengunjungi Indonesia.”

 

World Expo membuka jalan untuk diplomasi dan perdagangan. Paviliun Indonesia sendiri menutup keikutsertaannya dengan berbagai capaian, namun penampilan seni dan budaya seperti Komunitas Perempuan Menari memberikan sentuhan emosional yang memperkaya keseluruhan pengalaman pengunjung. Dan kesan-kesan dari para pengunjung ini menunjukkan bahwa diplomasi budaya bekerja jauh melampaui pameran instalasi atau video — ia hidup lewat energi manusianya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News